Vaksinasi adalah pemasukan bibit
penyakit yang dilemahkan ke tubuh ayam untuk menimbulkan kekebalan alami.
Vaksinasi penting yaitu vaksinasi ND/tetelo. Dilaksanakan pada umur 4 hari
dengan metode tetes mata, dengan vaksin ND strain B1 dan pada umur 21 hari
dengan vaksin ND Lasotta melalui suntikan atau air minum.
Vaksin adalah mikroorganisme
penyebab penyakit yang sudah dilemahkan atau dimatikan dan mempunyai sifat
immunogenik. Immunogenik artinya dapat merangsang pembentukan kekebalan.
Vaksinasi adalah proses memasukkan vaksin ke dalam tubuh ternak dengan tujuan
supaya ternak tersebut kebal terhadap penyakit yang disebabkan organisme
tersebut. Vaksin ada dua macam, yaitu vaksin aktif dan vaksin inaktif. Vaksin
aktif adalah vaksin yang mikroorganismenya masih aktif atau masih hidup.
Biasanya vaksin aktif berbentuk sediaan kering beku, contoh: MEDIVAC ND LA
SOTA, MEDIVAC ND-IB dan MEDIVAC GUMBORO A. Vaksin inaktif adalah vaksin yang
mikroorganismenya telah dimatikan. Biasanya berbentuk sediaan emulsi atau
suspensi, contoh: MEDIVAC ND-EDS EMULSION, MEDIVAC CORYZA B (Jahja, 2000).
Pelaksanaan Kegiatan vaksinasi dapat
dilakukan dengan cara membagi ayam menjadi 2 kelompok besar dalam sekatan. Ayam
kemudian digiring ke dalam 2 sekatan yang terbentuk. Vaksinasi dilakukan mulai
dari pen terakhir hingga pen pertama. Ayam yang telah divaksinasi diletakan
diluar sekatan hingga kemungkinan terjadinya pengulangan vaksinasi dapat
diminimalisir.
Pemberian vaksin dapat dilakukan
dengan beberapa cara, seperti tetes mata, hidung, mulut (cekok), atau melalui
air minum. Vaksinasi harus dilakukan dengan benar sehingga tidak menyakiti,
unggas dan mempercepat proses vaksinasi, dan tidak meninggalkan sisa sampah
dari peralatan vaksinasi seperti suntikan, sarung tangan, masker maupun sisa
vaksin yang digunakan (botol vaksin). Unggas yang divaksin harus benar- benar
dalam keadaan sehat tidak dalam kondisi sakit maupun stress sehingga akan
mendapatkan hasil yang maksimal dan tidak terjadi kematian dalam proses
vaksinasi. Tata cara vaksinasi harus ditempat yang teduh, bersih, vaksin tidak
dalam kondisi sakit maupun stress sehingga tidak merusak vaksin. Program
vaksinasi untuk unggas, harus disesuaikan dengan umur dari unggas tersebut dan
harus berhati-hati dalam memvaksin karena sangat sensitif terhadap jarum suntik
dan dapat menimbulkan stress dan kematian mendadak.
Penyakit dan pencegahannya
Penyakit yang sering
menyerang ayam broiler yaitu:
1) Tetelo
(Newcastle Disease/ND)
Pertama kali ditemukan oleh
Kraneveld di Jakarta (1926). Setahun kemudian, virus tetelo ditemukan juga di
Newcastle (Inggris). Sejak saat itu, penyakit ini dikenal sebagai newcastle
disease (NCD) dan ditemukan di berbagai penjuru dunia. Di India, penyakit ini
dikenal dengan nama aanikhet. Penyakit ini merupakan suatu infeksi viral yang
menyebabkan gangguan pada saraf pernapasan. Disebabkan virus Paramyxo yang
bersifat menggumpalkan sel darah dan biasanya dikualifikasikan menjadi:
a.
Velogenik
b.
Mesogenic
c.
Lentogenik
1. Tipe Velogenik, yaitu Strain yang sangat
berbahaya atau disebut dengan Viscerotropic Velogenic Newcastle Disease
(VVND) Tipe Velogenic ini menyebabkan kematian yang luar biasa bahkan hingga
100%.
2.
Tipe Mesogenic, Kematian
tipe mesogenic pada anak ayam mencapai 10% tetapi ayam dewasa jarang mengalami
kematian. Pada tingkat ini ayam akan menampakan gejala seperti gangguan
pernapasan dan saraf.
3. Tipe Lentogenik, merupakan stadium yang
hampir tidak menyebabkan kematian. Hanya saja dapat menyebabkan produktivitas
telur menjadi turun dan kualitas kulit telur menjadi jelek. Gejala yang tampak
tidak terlalu nyata hanya terdapat sedikit gangguan pernapasan.
Virus ini tidak akan bertahan lebih
dari 30 hari pada lokasi pemaparan.
Gejala: ayam sering megap-megap,
nafsu makan turun, diare dan senang berkumpul pada tempat yang hangat, ayam
sulit bernafas, batuk-batuk, bersin, timbul bunyi ngorok, lesu, mata ngantuk,
Jengger dan kepala kebiruan, kornea menjadi keruh, sayap turun, tinja encer
kehijauan kadang berdarah. Setelah 1 sampai 2 hari muncul gejala (tortikolis)
syaraf, yaitu kaki lumpuh, leher berpuntir dan kepala ayam berputar-putar yang
akhirnya mati. Belum ada obat yang dapat menyembuhkan, maka untuk mengurangi
kematian, ayam yang masih sehat divaksin ulang atau dengan melakukan vaksinasi
melalui tetes mata atau hidung pada anak ayam umur 3-4 hari, umur 3 minggu dan
setiap 3 bulan secara teratur, peralatan dan kandang dijaga supaya tetap
bersih. Vaksinasi pertama ayam umur 3-4 hari dengan vaksin Bl, diulangi setelah
3 minggu dengan vaksin Lasota dan kemudian setiap 3 bulan. Dan dijaga agar
lantai kandang tetap kering.
Pengendalian: (1) menjaga kebersihan
lingkungan dan peralatan yang tercemar virus, binatang vektor penyakit tetelo,
ayam yang mati segera dibakar/dibuang; (2) pisahkan ayam yang sakit, mencegah
tamu masuk areal peternakan tanpa baju yang mensucihamakan/ steril serta
melakukan vaksinasi NCD. Sampai sekarang belum ada obatnya.
2)
Penyakit cacar ayam
Dengan memberikan vaksinasi,
mencungkil kutil-kutil dengan gunting dan diolesi dengan yodium tintur, atau
obat anti infeksi dan cuci hamakan kandang.
3) Gumboro (Infectious Bursal Disease/IBD)
Penyakit gumboro
(Infectious Bursal Disease / IBD) ini ditemukan tahun 1962 oleh Cosgrove di
daerah Delmarva Amerika Serikat. Penyakit Gumboro merupakan
penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang disebabkan virus golongan
Reovirus. Ayam yang terkena penyakit Gumboro akan
menunjukkan gejala seperti hilangnya nafsu makan, gangguan saraf, merejan, suka bergerak tidak
teratur, diare, tubuh gemetar, peradangan
disekitar dubur, bulu di sekitar anus kotor dan
lengket serta diakhiri dengan kematian ayam. Sering menyerang pada umur
36 minggu. Dapat dilakukan adalah pencegahan dengan vaksin Gumboro. Penyakit Gumboro menyerang kekebalan tubuh ayam, terutama
bagian fibrikus dan thymus. Kedua bagian ini merupakan pertahanan tubuh ayam.
Pada kerusakan yang parah, antibodi ayam tersebut tidak terbentuk. Karena
menyerang system kekebalan tubuh, maka penyakit ini sering disebut sebagai
AIDSnya ayam. Penyakit Gumboro sendiri sebenarnya memang tidak menyebabkan
kematian secara langsung pada ayam, tetapi karena adanya infeksi sekunder yang
mengikutinya akan menyebabkan kematian dengan cepat karena virus Avibirnavirus
bersifat imunosupresif yang menyebabkan kekebalan tubuhnya tidak bekerja
sehingga memudahkan kawanan ayam yang diserang oleh virus dan infeksi sekunder
oleh bakteri. penyakit Gumboro merupakan penyakit yang dapat merusak morfologi
dan fungsi organ limfoid primer, terutama bursa fabricius. Rusaknya bursa
fabricius akan mengakibatkan suboptimalnya pembentukan antibodi terhadap
berbagai program vaksinasi, sehingga kepekaan terhadap berbagai agen penyakit
menjadi meningkat.. Penyakit ini menyerang bursa fabrisius, khususnya menyerang
anak ayam umur 3–6 minggu.
Penularan penyakit
Gumboro atau IBD dapat melalui kontak langsung antara ayam yang muda dengan
ayam yang sakit atau terinfeksi pada peternakan yang mempunyai ayam berbagai
umur dapat mengakibatkan infeksi ini terus menyebar dan sangat sulit dikendalikan.
Penularan secara langsung melalui kotoran dan tidak langsung melalui pakan, air
minum dan peralatan yang tercemar.
Peralatan, kandang, air
minum dan pakaian petugas yang terkontaminasi Gumboro dapat juga memperparah
kejadian penyakit tersebut. Penyakit Gumboro tidak menular dengan perantaraan
telur dan ayam yanng sudah sembuh tidak menjadi carrier.
Penanggulangan Gumboro
ini dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu vaksinasi, dan menjaga
kebersihan lingkungan kandang. Tips yang dapat digunakan
untuk disinfeksi kandang ayam yang pernah tercemar virus gumboro. Disarankan
penggunaan formalin 10 % (1 bagian formalin 38 % dicampur ke dalam 9 bagian
air) atau dengan 0,25% larutan soda api (2,5 gram soda api kedalam 1 liter
air).
Pengobatan Gumboro dapat
dengan pemberian obat-obat untuk gumboro, juga ada obat tradisional dengan
penggunaan daun teh.
4) Penyakit Ngorok (Chronic Respiratory
Disease)
Merupakan infeksi saluran pernapasan
yang disebabkan oleh bakteri Mycoplasma gallisepticum. Gejala yang nampak
adalah ayam sering bersin dan ingus keluar lewat hidung dan ngorok saat
bernapas. Pada ayam muda menyebabkan tubuh lemah, sayap terkulai, mengantuk dan
diare dengan kotoran berwarna hijau, kuning keputih-keputihan. Penularan
melalui pernapasan dan lendir atau melalui perantara seperti alat-alat.
Pengobatan dapat dilakukan dengan obat-obatan yang sesuai. Untuk ayam broiler
atau ayam pedaging penyakit CRD masih menduduki posisi pertama (yang
sering menyerang ayam pedaging).
Berikut urutan penyakit yang sering
menyerang ayam pedaging:
1. CRD
komplek 20.32%
2. CRD 19.36%
4. Colibacillosis
14.12%
5. Gumboro 8.24 %
6. Koksi 4.49%
7 ND 3.85%
8.
Leucocytozoonosis 3.21%
9. Kolera 2.14 %
10. AI 2.03%
Jadi kesimpulan dari data di atas
bahwa penyakit CRD kompleks sangat berbahaya pada ayam dewasa tidak sampai
menimbulkan kematian yang terlihat secara signifikan. walaupun kadar kesakitan
terhadap ayam tersebut sangat tinggi.
Apabila sudah terlihat gejala dari penyakit ngorok maka segera mungkin untuk ditangani karena dikhawatirkan penyakit E.coli akan masuk kedalam tubuh ayam dan menjangkit secara perlahan dan akan terjadilah penyakit yang sangat berbahaya yang di sebut dengan CRD komplek.
Apabila sudah terlihat gejala dari penyakit ngorok maka segera mungkin untuk ditangani karena dikhawatirkan penyakit E.coli akan masuk kedalam tubuh ayam dan menjangkit secara perlahan dan akan terjadilah penyakit yang sangat berbahaya yang di sebut dengan CRD komplek.
Dan dalam penggunaan obat, sangat di anjurkan sekali
bahwa setiap 4 periode pemeliharaan, pemakaian obat-obatan atau antibiotik
harus di lakukan penggantian, maksudnya untuk mencegah terjadinya resistensi
obat pada ayam.
5)
Berak Kapur (Pullorum)
Disebut penyakit berak kapur karena
gejala yang mudah terlihat adalah ayam diare mengeluarkan kotoran berwarna
putih dan setelah kering menjadi seperti serbuk kapur. Disebabkan oleh bakteri
Salmonella pullorum (Anonimus, 2009).
Kematian dapat terjadi pada hari
ke-4 setelah infeksi. Penularan melalui kotoran. Pengobatan belum dapat
memberikan hasil yang memuaskan, yang sebaiknya dilakukan adalah pencegahan
dengan perbaikan sanitasi kandang. Infeksi bibit penyakit mudah menimbulkan
penyakit, jika ayam dalam keadaan lemah atau stres. Kedua hal tersebut banyak
disebabkan oleh kondisi lantai kandang yang kotor, serta cuaca yang jelek.
Cuaca yang mudah menyebabkan ayam lemah dan stres adalah suhu yang terlalu
panas, terlalu dingin atau berubah-ubah secara drastis. Penyakit, terutama yang
disebabkan oleh virus sukar untuk disembuhkan. Untuk itu harus dilakukan
sanitasi secara rutin dan ventilasi kandang yang baik (Anonimus, 2009).
Pullorum merupakan penyakit menular pada ayam yang dikenal dengan nama berak
putih atau berak kapur (Bacilary White Diarrhea= BWD). Penyakit ini menimbulkan
mortalitas yang sangat tinggi pada anak ayam umur 1-10 hari. Selain ayam,
penyakit ini juga menyerang unggas lain seperti kalkun, puyuh, merpati,
beberapa burung liar.
Etiologi
Pullorum atau Berak kapur disebabkan
oleh bakteri salmonella pullorum dan bakteri gram negatif. Bakteri ini mampu
bertahan ditanah selama 1 tahun.
Kejadian penyakit. Di Indonesia penyakit pullorum merupakan penyakit menular yang sering ditemui. Meskipun segala umur ayam bisa terserang pullorum tapi angka kematian tertinggi terjadi pada anak ayam yang baru menetas. Angka morbiditas pada anak ayam sering mencapai lebih dari 40% sedangkan angka mortalitas atau angka kematian dapat mencapai 85%.
Kejadian penyakit. Di Indonesia penyakit pullorum merupakan penyakit menular yang sering ditemui. Meskipun segala umur ayam bisa terserang pullorum tapi angka kematian tertinggi terjadi pada anak ayam yang baru menetas. Angka morbiditas pada anak ayam sering mencapai lebih dari 40% sedangkan angka mortalitas atau angka kematian dapat mencapai 85%.
Cara
penularan
Penularan penyakit Pullorum dapat
melalui 2 jalan yaitu:
-Secara vertikal yaitu induk menularkan kepada anaknya melalui telur.
-Secara horizontal terjadi melalui kontak langsung antara unggas secara klinis sakit dengan ayam karier yang telah sembuh, sedangkan penularan tidak langsung dapat melalui kontak dengan peralatan, kandang, litter dan pakaian dari pegawai kandang yang terkontaminasi.
-Secara vertikal yaitu induk menularkan kepada anaknya melalui telur.
-Secara horizontal terjadi melalui kontak langsung antara unggas secara klinis sakit dengan ayam karier yang telah sembuh, sedangkan penularan tidak langsung dapat melalui kontak dengan peralatan, kandang, litter dan pakaian dari pegawai kandang yang terkontaminasi.
Gejala klinis
ü Nafsu makan menurun
ü Feses (kotoran) kotoran berwarna putih seperti
kapur
ü Kotorannya menempel di sekitar dubur berwarna
putih
ü Kloaka akan
menjadi putih karena feses yang telah kering
ü Jengger
berwarna keabuan
ü Mata menutup
dan nafsu makan turun
ü Badan anak
ayam menjadi lemas
ü Sayap
menggantung dan kusam
ü Lumpuh
karena arthritis
ü Suka
bergerombol
ü
Diagnosis
Isolasi dan identifikasi salmonella
pullorum dapat diambil melalui hati, usus maupun kuning telur dapat dilakukan
pembiakan kedalam medium. Ayam karier yang sudah sembuh dapat diidentifikasi
dengan penggumpalan darah secara cepat (rapid whole blood plate aglutination
test).
Pengobatan
Pengobatan Berak Kapur dilakukan
dengan menyuntikkan antibiotik seperti furozolidon, coccilin, neo terramycin,
tetra atau mycomas di dada ayam. Obat-obatan ini hanya efektif untuk pencegahan
kematian anak ayam, tapi tidak dapat menghilangkan infeksi penyakit tersebut.
Sebaiknya ayam yang terserang dimusnahkan untuk menghilangkan karier yang
bersifat kronis.
Pencegahan
Beberapa tindakan pencegahan yang
dapat dilakukan oleh para peternak ayam adalah :
ü Menjaga
kebersihan lingkungan hidup ayam.
ü Menjaga
kebersihan kandang dengan cara disucihamakan dengan menggunakan larutan kaporit
( takaran 1 : 1.000 ).
ü Pengapuran
kandang.
ü Pembuangan kotoran ayam jauh dari lokasi
peternakan.
ü Perlindungan dari serangan berbagai macam
hewan liar.
ü Pengkarantinaan
ayam yang terserang penyakit.
ü Pemusnahan
bangkai ayam ( dibakar atau dipendam ).
ü Ayam yang
dibeli dari distributor penetasan atau suplier harus memiliki sertifikat bebas
salmonella pullorum.
ü Melakukan
desinfeksi pada kandang dengan formaldehyde 40%.
ü Ayam yang
terkena penyakit sebaiknya dipisahkan dari kelompoknya, sedangkan ayam yang
parah dimusnahkan.
6)
Berak darah (Coccidiosis)
Gejala: tinja berdarah dan mencret,
nafsu makan kurang, sayap terkulasi, bulu kusam menggigil kedinginan.
Pengendalian: (1) menjaga kebersihan
lingkungaan, menjaga litter tetap kering; (2) dengan Tetra Chloine Capsule
diberikan melalui mulut; Noxal, Trisula Zuco tablet dilarutkan dalam air minum
atau sulfaqui moxaline, amprolium, cxaldayocox.
Kholera atau dikenal juga dengan
nama fowl cholera, avian pasteurellosis dan avian hemorrhagic
septicaemia merupakan salah satu penyakit infeksius yang banyak menyebabkan
masalah di peternakan ayam dan kalkun. Kholera merupakan penyakit bakterial
yang umum ditemukan pada peternakan kecil di Asia. Mortalitas dapat mencapai
80% terutama pada musim penghujan. Penyakit ini biasanya menyerang ayam diatas
6 minggu ditandai dengan adanya peningkatan angka kematian yang mendadak dan
tidak terduga. Kholera banyak ditemukan pada ayam yang stress akibat sanitasi
yang jelek, malnutrisi, kandang terlalu padat, dan adanya penyakit lain. Kalkun
lebih rentan terhadap penyakit ini dibandingkan dengan ayam, dan ayam yang tua
lebih rentan dibanding yang masih muda. Mengingat tingkat kerentanan dan
pengelolaan peternakan, kasus kholera di Indonesia lebih banyak ditemukan pada
ayam petelur dibandingkan dengan ayam pedaging. Hal ini terkait dengan masa
pemeliharaan ayam pedaging yang cukup pendek, serta kebiasaan peternak yang
akan memanen ayamnya lebih cepat apabila ditemukan kasus penyakit untuk
mencegah kerugian yang besar. Kholera disebabkan oleh Pasteurella multocida,
bakteri gram negatif yang ditemukan oleh Louis Pasteur pada tahun 1880-an. P.
multocida sangat rentan terhadap disinfektan biasa, sinar matahari dan
panas. Akan tetapi masih bisa bertahan sekitar 1 bulan di kotoran, 3 bulan di
karkas dan antara 2-3 bulan di tanah yang lembab. Infeksi dapat terjadi melalui
rute mulut dan saluran pernafasan.
Kholera dapat masuk ke peternakan
melalui burung, tikus, orang atau peralatan yang pernah kontak dengan penyakit.
Penyebaran antar flok dapat disebabkan oleh minuman yang terkontaminasi,
kotoran dan discharge hidung.
Pada kasus yang akut, kematian ayam
merupakan gejala pertama yang nampak. Demam, turunnya konsumsi pakan, discharge
dari mulut, diare dan gejala pernafasan dapat pula terlihat. Gejala lain
termasuk sianosis dan pembengkakan jengger. Ayam yang bertahan hidup menjadi
kronis atau dapat pula sembuh, sedangkan yang lain bisa mati karena dehidrasi.
Pada kasus lebih lanjut, ayam akan menunjukan gejala penurunan berat badan dan pincang
karena infeksi pada persendian.
Pada awal kasus angka kematian
berkisar antara 5-15% bahkan bisa lebih tinggi apabila terjadi bersamaan denga
kasus penyakit lain. Angka kematian akan menurun sampai 2-5% ketika kasusnya
menjadi kronis. Ayam yang tertular secara kronis dapat mati, tetap tertular
dalam jangka waktu yang panjang atau sembuh. Persentase yang tinggi dari ayam
di dalam flok akan menjadi carriers walaupun terlihat normal atau sehat dan
merupakan sumber utama penularan. Penyebaran P multocida didalam flok terjadi
melalui eksresi dari mulut, hidung, dan konjungtiva unggas yang sakit dan
kemudian mengkontaminasi lingkungan. Selain dari ayam yang selamat dari bentuk
akut, kasus kronis ditemukan pada ayam yang tertular agen yang tidak terlalu ganas.
Ayam yang tertular secara kronis
akan mengeluarkan agen penyakit sepanjang hidupnya. P. multocida dapat
ditemukan dalam semua jaringan pada unggas yang mati dengan gejala septicemia,
sehingga praktek kanibalisme juga merupakan faktor penyebaran yang sangat
penting bagi penyakit ini.
Diagnosa
Diagnosa positif hanya dapat
dilakukan apabila dilakukan isolasi serta identifikasi P. Multocida di
laboratorium. Diagnosa tentatif bisa dilakukan berdasarkan sejarah, gejala
klinis dan patologi anatomi. Walaupun sejarah dan gejala klinis menunjukan
kemungkinan ditemukannya kholera, agen penyebab sebaiknya tetap diisolasi
sehinga isolat dapat diuji untuk tingkat kepekaannya terhadap antibiotik.
Pencegahan
Pencegahan terbaik adalah melalui
penerapan biosecuriti yang baik, kontrol rodensia, dan hygiene peternakan.
Selain itu sebagai alat pencegahan, bacterin dapat digunakan pada umur 8 dan 12
minggu serta vaksin pada umur 6 minggu. Semua langkah dasar dari program
biosekuriti diperlukan untuk mencegah masuknya penyakit. Orang sebagai sumber
penularan yang paling dominan harus dikontrol dengan baik. Hanya orang-orang
yang perlu masuk kandang saja yang bisa masuk kedalam kandang dan inipun harus
melalu prosedur pencucian tangan dengan sabun dan kalau memang memungkinkan
untuk selalu memakai pakaian kandang yang baru dan sepatu boot yang bersih.
Program sanitasi yang baik untuk kandang dan peralatan juga sangat penting,
terutama ketika persiapan memasukan unggas baru. Hal yang paling penting adalah
pembersihan dan disinfeksi peralatan pakan dan minum. Pengawasan yang ketat
untuk tiap pemasukan pakan, peralatan kandang dan juga orang sangat diperlukan
untuk mencegah masuknya kholera.
Berikut hal yang perlu diperhatikan
untuk mencegah kasus kholera:
1. Ayam
yang sakit dan mati di pisahkan dari ayam yang sehat untuk kemudian di
musnahkan (disposal yang baik)
2. Apabila wabah telah
terjadi, dilakukan depopulasi, pembersihan dan desinfeksi kandang serta peralatan
kandang
3.
Jeda waktu antara ayam tua yang di afkir dan penggantinya
4.
Kontrol rodensia dan hama lainnya
5.
Sumber air minum yang aman dan bersih
6.
Mencegah kontak antara ayam dengan hewan lain dan burung liar
7.
Bacterin dan vaksinasi
8.
Pengobatan Jenis sulfa dan antibiotik (sulfadimethoxine, sulfaquinoxaline,
sulfamethazine, sulfaquinoxalene, penicillin, tetracycline, erythromycin,
streptomycin).
Penggunaan vaksin atau bacterin
Vaksinasi
dapat dilakukan untuk mencegah penyakit ini, akan tetapi perlu diingat bahwa
vaksinasi hanya merupakan alat pencegahan bagi peternakan yang berisiko tinggi
terkena kholera karena berdekatan dengan peternakan tertular. Vaksinasi kholera
sendiri sebenarnya mempunyai risiko, sebagai contoh: vaksin hidup walaupun akan
memberikan pertahanan juga akan menghasilkan efek samping yang tidak
diharapkan. Bacterin killed, akan memberikan hasil tingkat antibodi yang
baik, tetapi hanya spesifik untuk strain yang digunakan.
Pengobatan
Pengobatan
untuk kholera sebaiknya dijadikan alternatif terakhir. Pengobatan hanya efektif
apabila dilakukan pada awal-awal kasus sebelum terlalu banyak ayam yang
tertular dan penyakit menjadi kronis. Walaupun pengobatan dapat mengurangi
dampak dari wabah, ayam tertular dapat saja kambuh lagi apabila pengobatan
dihentikan. Sehingga pengobatan perlu diperpanjang dengan penambahan obat ke
pakan dan minuman. Perlu diingat bahwa penggunaan antibiotik atau sulfa harus
berdasarkan hasil tes sensitifitas terhadap agen yang diisolasi dari lokasi
kasus. Pengobatan dapat mengurangi angka kematian dan mempertahankan tingkat
produksi. Akan tetepi apabila infeksi kronis sudah ditemukan, keuntungan
pengobatan sangat sulit untuk dapat dilihat. Sulfaquinoxaline sodium dalam
pakan atau air minum biasanya dapat mengontrol angka kematian, begitu pula
halnya dengan sulfamethazine dan sulfadimethoxine.
Penggunaan
tetracycline dosis tinggi dalam pakan (0.04%), air minum atau injeksi dapat
pula bermanfaat untuk pengobatan. Penicillin efektif digunakan untuk infeksi
yang resisten terhadap sulfa. Perlu diperhatikan bahwa pengobatan dengan sulfa
akan menghasilkan residu di daging dan telur. Antibiotik dapat digunakan dengan
menggunakan dengan dosis yang lebih tinggi dan jangka waktu yang cukup panjang
untuk menghentikan wabah. Mengingat adanya efek samping residu yang tidak
diharapkan, semua pengobatan sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter hewan yang
dapat menilai efektifitas dan keamanan dari penggunaan sulfa dan antibiotik
ini.
8)
Sindrom Kerdil Ayam
Masih kerap
terdengar bila kita melakukan kunjungan lapangan ke peternak – peternak ayam
pedaging (broiler), adanya keluhan mengenai ketidak – seragaman ayam yang
dipeliharanya. Menurut penuturan mereka, pada saat doc tiba kondisinya
terlihat seragam, tetapi setelah ayam mulai menginjak usia di atas 14 hari,
baru terlihat adanya ayam yang terlambat pertumbuhannya.
Pertumbuhan
yang tidak seragam pada ayam broiler memang banyak penyebabnya seperti :
ü
Doc berasal dari Bibit Muda atau Bibit Tua Sekali
ü
Multi strain dalam satu flock / kandang
ü
Kurang tempat pakan dan tempat minum
ü
Kepadatan ayam di kandang yang terlalu tinggi
ü
Penyakit infectious seperti Coccidiosis
ü
Sindroma Kekerdilan pada Broiler ( Runting and
Stunting Syndrome )
Pada umumnya
para peternak berpendapat bahwa beberapa penyebab yang menyebabkan ayamnya
tidak seragam seperti karena doc, multistrain dalam satu kandang, kurang
peralatan makan dan minum, kepadatan ayam dalam kandang dan penyakit coccidiosis,
mereka sudah dapat mengatasinya di lapangan. Tetapi untuk sindroma
kekerdilan atau runting and stunting syndrome, para peternak masih
meraba-raba penyebabnya, karena kejadian di lapangan kadang ada dan kadang
tidak ada atau hilang dengan sendirinya.
Sindroma
Kekerdilan pada Broiler mempunyai berbagai ragam nama lain seperti :
ü
Malabsorption Syndrome
ü
Stunting Syndrome
ü
Reovirus Malabsorption
ü
Pale Bird Syndrome
ü
Helicopter Disease
ü
Brittle – bone Disease
Sindroma
kekerdilan didefinisikan sebagai : Sekelompok ayam (umumnya terjadi 5-40%
populasi ) yang mengalami laju pertumbuhan yang kurang pada kisaran usia 4-14
hari. Dimana setelah pada awalnya pertumbuhan tertekan, kemudian
kembali normal, tetapi tetap lebih kecil dari yang normal.
Bila kondisi
di atas dialami peternak broiler maka beberapa kerugian sudah nampak di depan
mata seperti : tingginya ayam culling; tingginya FCR; rataan berat badan di
bawah standar; berat badan yang sangat bervariasi, hal mana akan menjadi
masalah bila ada kontrak dengan “slaughter house” / rumah potong ayam; masalah
dengan penjualan karena banyaknya ayam yang kecil.
Penyebab
Ada beberapa
faktor yang menjadi penyebabnya yaitu :
ü
Penyebab berasal dari Pembibitan
ü
Penyebab berasal dari Penetasan / Hatchery
ü
Penyebab berasal dari Manajemen Produksi
ü
Penyebab berasal dari Pakan / Nutrisi
ü
Penyebab berasal dari Lingkungan
ü
Penyebab berasal Penyakit
ü
1. Penyebab berasal dari Pembibitan.
Beberapa hal
yang berasal dari Pembibitan yang dapat menyebabkan doc yang dihasilkan
mengalami sindroma kekerdilan antara lain :
ü
Telur tetas kecil (telur tetas yang berasal dari usia
induk < 35 minggu dan atau biasanya pada saat puncak produksi)
ü
Maternal antibodi Reo-virus yang diturunkan rendah, padahal
DOC perlu Maternal Antibodi yang tinggi
ü
Akan lebih parah apabila induknya positif Salmonella
enteritidis
ü
Walaupun demikian kekerdilan bukan merupakan
penyakit yang diturunkan
2. Penyebab berasal dari Penetasan / Hatchery.
Beberapa hal
yang berasal dari Penetasan / Hatchery yang dapat menyebabkan doc yang
dihasilkan mengalami sindroma kekerdilan antara lain :
ü
Waktu koleksi telur tetas yang terlalu lama
ü
Tidak
dilakukannya grading telur tetas yang akan dimasukkan ke mesin tetas
ü
Bercampurnya telur tetas yang berasal dari usia induk
yang sangat jauh berbeda
ü
Terlalu lama proses penanganan di ruang seleksi
sehingga doc mengalami stress
ü
Kurang representatifnya alat angkut doc (chick van)
dari Hatchery ke Peternak / kandang pemeliharaan.
3. Penyebab berasal dari Manajemen
Produksi
Manajemen
Produksi juga dapat menjadi penyebab terjadinya sindroma kekerdilan seperti :
ü
Biosecurity yang buruk
ü
Farm terdiri dari beberapa usia (multi ages)
ü
Kurang baiknya kualitas doc yang dipelihara
ü
Penanganan doc yang kurang baik terutama waktu periode
brooding
ü
Cara pemberian, kualitas dan kuantitas pakan yang
diberikan tidak benar
4. Penyebab berasal dari Pakan /
Nutrisi
Kandungan
yang terdapat pada pakan jika kurang atau berlebihan kadang menimbulkan pertumbuhan
yang kurang baik bagi ayam yang dipelihara misalnya
ü
Gejala sering seperti ayam yang terserang
mycotoxicosis, khususnya Aflatoxicosis
ü
Penggunaan Bungkil Kacang Kedelai yang berkualitas
rendah
ü
Penggunaan Canola Meal dan Protein Hewani lebih
daripada 8%
ü
Tidak ada atau rendah kandungan Natrium (khusus di
Asia)
ü
Penggunaan vitamin yang kurang, khususnya pada pakan
Breeder.
5.
Penyebab berasal dari Lingkungan.
Menempatkan
ayam pada kondisi lingkungan yang kurang kondusif akan juga mengakibatkan ayam
terkena sindroma kekerdilan, seperti :
ü
Lingkungan kandang yang bersuhu dan kelembaban terlalu
tinggi
ü
Liingkungan kandang yang terlalu padat populasi
ayamnya dan terdiri dari berbagai usia
ü
Lingkungan kandang merupakan daerah endemik penyakit
yang bersifat imunosupresif.
ü
Penyebab berasal dari Penyakit.
Ada beberapa
penyakit yang dapat memicu timbulnya sindroma kekerdilan, dimana penyakit
tersebut umumnya menimbulkan stress dan khususnya bersifat immunosupresif,
seperti :
ü
Infeksi Reo virus
ü
Infeksi Mareks Disease, hal ini dapat terjadi terutama
di Asia karena Broiler di Asia tidak divaksinasi
ü
Chicken Anemia Virus, vaksinasi tidak dilakukan di
beberapa negara
ü
ALV – J, diduga ada korelasi positif dengan sindroma
kekerdilan
ü
Infectious Bursal Disease / Gumboro, beberapa negara
hanya memakai strain klasik untuk vaksinasinya
ü
Avian Nephritis Virus
ü
Reaksi yang berlebihan dari vaksinasi ND dan IB
Penyebab
utama yang paling berperanan adalah Reo virus dengan spesifikasi sebagai
berikut :
ü
Virus tidak berselubung / amplop, tahan panas dan
dapat hidup
ü
pada 600 C selama 8 – 10 jam
ü
pada 560 C selama 22 – 24 jam
ü
pada 370 C selama 15 – 16 minggu
ü
pada 220 C selama 48 – 51 minggu
ü
pada 40 C selama lebih dari 3 tahun
ü
pada - 630 C selama lebih dari 10 tahun
Penularan
ü Penularan
dapat terjadi secara horizontal
ü Melalui
jalur respirasi
ü Penularan
secara vertikal dengan suatu percobaan dengan cara inokulasi induk usia 15
bulan, ternyata pada doc hasil tetasannya (17 – 19 hari post inokulasi)
mengandung virus reo
Gejala Klinis
Biasanya
mulai terlihat pada usia 4 – 8 hari dengan ciri-ciri :
ü
Malas bergerak
ü
Bulu kusam
ü
Coprophagia (faeces / litter eating)
ü
Bila di uji gula darahnya “ Hypoglycaemic ”
ü
Hanya sebagian populasi yang terkena dengan kategori :
·
5 – 10 % populasi dengan kategori RINGAN
·
10 – 30 % populasi dengan kategori BURUK
·
30 % populasi dengan kategori BENCANA
Biasanya terlihat pada usia 2 minggu :
·
Bulu sekitar kepala dan leher tetap “ Yellow Heads”
·
Bulu primer sayap patah / dislokasi “ Helicopter Birds
“ / “ Stress Banding”
·
Tulang kering / betis berwarna pucat
·
Jika diperiksa kotorannya masih utuh / makanan hanya
lewat saja.
9)
Colibacillosis
Collibacillosis
adalah Penyakit infeksius pada unggas yang disebabkan oleh kuman Echerichia
coli yang pathogen / ganas baik secara primer maupun secara sekunder.
Colibacillosis pertama kali ditemukan pada tahun 1894, setelah itu banyak
kejadian-kejadian colibacillosis sehingga memperkaya dan saling melengkapi
mengenai penyakit ini baik kejadian di lapangan maupun penelitian di
laboratorium.
Kuman pada
umumnya menular secara horizontal, dan secara garis besar dibagi menjadi 2
penyebab utama yaitu :
ü
Dari dalam, yaitu yang berasal dari anak ayam
/ ayam itu sendiri, seperti kejadian Radang pusar atau Omphalitis, Stress
ataupun Dehydrasi akibat perjalanan. Dalam saluran pencernaan ayam ada ≤
106 /gr, dimana 10 – 15 % adalah berpotensi menjadi pathogen /
ganas.
ü
Dari luar, yaitu yang berasal dari
kontaminan lingkungan sekitar / area kandang dan atau yang berasal dari bahan
sapronak yang tidak bersih misalnya kontaminan berasal dari pakan, air dan
udara yang tercemar Escherichia coli.
Walaupun
penyebabnya sama yaitu infeksi bakteri Escherichia coli, tetapi di lapangan
banyak dikenal berbagai macam penyakit yang merupakan berbagai bentuk
manifestasi akibat terinfeksi bakteri ini, diantaranya adalah :
1.
Kematian Embrio / Omphalitis
2. Air
Sacculitis / Radang Kantung Hawa
3.
Colisepticemia/ Koliseptisemia
4.
Panophthalmitis
5.
Swolen Head Syndrome
6.
Coli Granuloma / Hjarres Diseases
Pencegahan
ü
Usahakan agar anak ayam yang dipelihara berasal
dari pembibitan yang bebas dari penyakit pernapasan seperti CRD, IB dan ND.
ü
Jika anak ayam sudah terlanjur masuk di kandang, anak
ayam yang sudah terinfeksi dengan bakteri Escherichia coli agar diafkir.
ü
Jalankan selalu prinsip water treatment / pengobatan
air secara efektif dan berkesinambungan, untuk menurunkan populasi bakteri
dalam air minum.
ü
Perhatikan selalu ventilasi, agar ayam selalu mendapat
udara yang segar, bersih dan sehat.
ü
Laksanakan biosecurity secara terpadu, agar kondisi
farm sesedikit mungkin mengandung kontaminan khususnya bakteri Escherichia
coli.
ü
Jaga selalu kekeringan litter kandang agar tidak
terlalu kering juga tidak terlalu basah, Untuk itu perlu diperhatikan selalu
kepadatan populasi agar kondisi kekeringan litter mudah untuk dikendalikan.
ü
Spray ruang kandang setiap hari menggunakan campuran
air dengan BIODES-100, SEPTOCID atau GLUTAMAS sangat berguna disamping untuk
menjaga kelembaban juga mengurangi density bakteri di ruang kandang.
ü
Bila ayam selalu terserang infeksi Escherichia coli
yang parah pada usia di atas tiga minggu, tidak ada salahnya lakukan
penyuntikan doc pada usia 4 hari pertama dengan antibiotika secara subkutan
bisa dengan memakai GENTIPRA atau HIPRASULFA – TS sesuai dengan dosis yang
dianjurkan.
ü
Alternatif vaksinasi inaktif kombinasi O2K1 dan
O78K80, dalam pelaksanaannya masih terjadi pro dan kontra akan efektifitas
kegunaannya, karena belum ada hasil yang sangat nyata.
ü
Hal yang paling penting untuk dilakukan agar serangan
infeksi bakteri Escherichia coli tidak menjadikan ayam peliharaan menjadi
menderita adalah dengan cara menciptakan ayam senyaman mungkin tinggal dalam
kandangnya, dengan kata lain jangan sampai ayam mengalami stress, karena stress
merupakan pencetus utama ayam terserang infeksi bakteri ini.
Pengobatan
Kuman E.
coli kebanyakan sensitif / peka terhadap beberapa antibiotika seperti kelompok
aminoglukosida (NEOXIN), polipeptida (MOXACOL), tetrasiklin, Sulfonamida,
trimethoprim (COLIMAS) dan Quinolon (CIPROMAS, ENROMAS).
Apabila
setelah diobati dengan berbagai antimikroba tidak terjadi perubahan
kearah penyembuhan, maka perlu dilakukan uji sensitivitas.
Pencegahan
dengan menggunakan obat suntik Hiprasulfa – TS dan Gentipra, serta spray
kandang dengan desinfektan Biodes-100, Septocid dan Glutamas, maupun
pengobatan dengan menggunakan Neoxin, Moxacol, Colimas, Cipromas maupun
Enromas, agar diperhatikan benar cara dan dosis pemakaiannya dan dilaksanakan sesuai
dengan anjuran dari pembuatnya, agar mendapatkan efek pengobatan yang maksimal.
10)
Pilek Pada Ayam
Penyakit
pilek yang menyerang pada ayam masuk ke dalam kategori penyakit yang berbahaya
dikarenakan penyakit ini dapat menular dengan sangat cepat dan dapat menyerang
ke semua jenis ayam. Ayam yang menderita penyakit pilek pergerakannya berubah
menjadi pasif. Gejala lain yang muncul pada ayam yang terserang pilek adalah
nafsu makannya menghilang, kepalanya bergoyang – goyang dan sering bersin –
bersin. Jika kondisi ini dibiarkan berlarut – larut, kondisi ayam akan semakin
parah. Dari lubang hidung dan kedua matanya akan keluar semacam cairan yang
pada akhirnya nanti dapat membuat hidung ayam tersumbat sehingga membuat ayam
menjadi susah bernafas. Penyakit ayam ini disebabkan oleh bakteri haemophilus
galloinarum dan dapat menyebar melalui makanan, minuman dan udara. Untuk
mengatasi penyebaran penyakit pilek ini, peternak ayam harus segera memindahkan
ayam yang sedang sakit ke kandang khusus untuk dikarantina.
Pengobatan
Beberapa
obat yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit pilek pada ayam adalah neofet,
kapsul anti snot dan bubuk coryuit. Dosis pemakaian obat dan cara
pemberian obat harus disesuaikan dengan petunjuk yang ada dikemasan obat.
Selain itu, penyakit ini juga dapat disembuhkan dengan cara menyuntikkan cairan
streptomycim berdosis 0,2 cc / suntikkan / hari. Proses penyuntikkan
berlangsung selama 5 hari dengan bagian tubuh ayam yang disuntik adalah leher
bagian belakang. Beberapa jenis obat yang biasa dikonsumsi oleh manusia
ditengarai juga dapat digunakan untuk mengobati ayam yang sedang terserang
penyakit pilek. Mereka adalah refagan dan bodrex. Caranya adalah
: satu tablet obat dilarutkan ke dalam 1 sendok air teh dan kemudian diminumkan
kepada ayam.
Pencegahan
Pemberian
antibiotik (streptomycin dan sulfanilamida) secara berkala dapat
membantu mencegah ayam tidak mudah terserang pilek. Vaksinasi (corryta
naccin dan vaksin snot) juga harus dilakukan ketika ayam masih
berumur 2 minggu, 1 bulan, 3 bulan dan menjelang usia dewasa.
11) Hama
·
Tungau (kutuan)
Gejala: ayam
gelisah, sering mematuk-matuk dan mengibas-ngibaskan bulu karena gatal, nafsu
makan turun, pucat dan kurus.
Pengendalian: (1) sanitasi lingkungan kandang ayam yang baik; pisahkan ayam
yang sakit dengan yang sehat; (2) dengan menggunakan karbonat sevin dengan
konsentrasi 0,15% yang encerkan dengan air kemudian semprotkan dengan
menggunakan karbonat sevin dengan konsentrasi 0,15% yang encerkan dengan air
kemudian semprotkan ketubuh pasien. Dengan fumigasi atau pengasepan menggunakan
insektisida yang mudah menguap seperti Nocotine sulfat atau Black leaf 40.
2.6.
Mortalitas
Mortalitas merupakan angka kematian
dalam pemeliharaan ternak. Ada banyak hal yang berpengaruh terhadap mortalitas
dalam pemeliharaan unggas. Misalnya, adalah karena penyakit, kekurangan pakan,
kekurangan minum, temperatur, sanitasi, dan lain sebagainya. Penyakit
didefinisikan sebagai segala penyimpangan gejala dari keadaan kesehatan yang
normal. Tingkat kematian yang disebabkan oleh penyakit tergantung dari jenis
penyakit yang menyerang unggas. Dalam pemeliharaan petelur yang berhasil,
tingkat kematian 10 sampai 12% dianggap normal dalam satu tahun produksi. Dalam
kelompok pedaging, kematian maksimum per tahun normalnya adalah sekitar 4%.
Setiap kematian yang melebihi angka tersebut harus dianggap sebagai kondisi yang
serius yang harus mendapat perhatian segera dari peternak yang bersangkutan
(Blakely and Bade, 1991).
Menurut Sidadolog (2001) ayam dewasa
dan merpati mampu bertahan hidup tanpa makan selama 2 sampai 3 minggu.
Kehilangan berat akibat kekurangan pakan (kelaparan) pada merpati antara 38
sampai 42% dari berat badan semula, sedangkan pada ayam setelah berpuasa selama
11 hari dan bebas minum, kehilangan berat 25% dari berat semula. Pemberian
pakan yang terkontrol dan teratur dapat menurunkan mortalitas ayam dan daya
hidup bertambah.
Kecukupan air minum pada ayam sangat
penting diperhatikan. Ayam lebih baik mengalami kelaparan daripada kehausan dan
kehilangan air. Ayam akan mati apabila kehilangan air 5 sampai 15% berat hidup.
Kematian terjadi pada ayam akibat kekurangan air dinyatakan sebagai berikut,
ayam berumur 8 minggu selama 72 jam, merpati dewasa selama 12 sampai 13 hari,
ayam petelur selama 8 sampai 13 hari dan ayam dewasa yang tidak bertelur sampai
32 hari. Pada periode starter, ayam broiler yang dipelihara pada temperatur
rendah (5 0C) terjadi kematian pada 4 minggu pertama sekitar 18%,
karena secara nyata temperature tubuh terlalu rendah di bawah soll wert
(Sidadolog, 2001).
Hal-hal yang perlu diperhatikan
dalam menekan angka kematian adalah mengontrol kesehatan ayam, mengontrol
kebersihan tempat pakan dan minum serta kandang, melakukan vaksinasi secara
teratur, memisahkan ayam yang terkena penyakit dengan ayam yang sehat, dan
memberikan pakan dan minum pada waktunya (Siregar et al., 1980).
Selamat datang di situs Bolavita, kami adalah salah satu Agen s128 Terbesar untuk Produk-produk taruhan paling lengkap di Indonesia. Memberikan pelayanan terbaik meliputi pendaftaran, pengisian dan penarikan saldo akun kepada para member kami yang setia dan juga para calon member-member kami.
BalasHapusNikmati Promo Bonus Sabung Ayam Online :
Klik » https://medium.com/@bolavita69/bonus-taruhan-sabung-ayam-online-terbesar-f609572b5332
Tersedia :
» Judi Bola Online ( Bursa pasaran bola terlengkap )
• SBOBET
• MAXBET | CBET
• 368BET | NOVA88
» Taruhan Sabung Ayam ( Wala Meron )
• S128
• SV388
» Casino Live ( Player Banker )
» Slot online
» Togel Online
» Bola Tangkas
» Tembak Ikan
» Dan Masih Banyak Lainnya.
Promo Spesial :
★ Bonus Spesial 100% (bila anda 8x menang secara beruntun)
★ Tournament Casino Sexy Gaming (Total Hadiah IDR 149.000.000,-)
Promo Lainnya :
★ Bonus 10% Deposit Pertama !
★ Bonus 5% Deposit Harian
★ Bonus Cashback Mingguan s/d 10%
★ Bonus referral 7% + 2%
Link Pendaftaran : https://bit.ly/3cjbqZe
Link Layanan Live Chat (24 Jam Online) : https://bit.ly/2VD8fER
Link Layanan Whatsapp (24 Jam Online) : https://bit.ly/kontak24jam